
Jamur pelapuk kayu Schizophyllum commune merupakan salah satu organisme yang dapat menyebabkan penurunan kualitas dan ketahanan kayu. (Dok. Instagram : @Mewalik)
Pontianak – Pernahkah Anda melihat kayu yang lapuk, rapuh, atau bahkan hancur meskipun tampak masih utuh dari luar? Salah satu penyebabnya adalah serangan jamur pelapuk kayu, yaitu kelompok jamur yang mampu menguraikan komponen penyusun kayu sehingga menurunkan kekuatan dan umur pakainya. Salah satu jenis jamur yang sering digunakan dalam penelitian adalah Schizophyllum commune, jamur pelapuk yang banyak ditemukan tumbuh pada batang atau kayu yang telah mati.
Mencari Antijamur dari Kekayaan Alam
Salah satu upaya untuk menghambat pertumbuhan jamur pelapuk kayu adalah dengan memanfaatkan senyawa alami yang terkandung dalam berbagai hasil hutan. Beragam bagian tumbuhan, seperti daun, buah, kulit batang, kayu, hingga hasil pirolisis berupa asap cair, diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi menghambat pertumbuhan jamur.
Melalui penelitian di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, mahasiswa mengeksplorasi potensi berbagai bahan alami tersebut sebagai alternatif antijamur yang lebih ramah lingkungan. Selain memanfaatkan sumber daya yang tersedia di hutan, penelitian ini juga membuka peluang pengembangan bahan pengawet kayu berbasis hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai tambah.
Diuji Langsung di Laboratorium
Untuk mengetahui efektivitasnya, mahasiswa melakukan pengujian di Laboratorium Kimia Hasil Hutan Fakultas Kehutanan UNTAN menggunakan media Potato Dextrose Agar (PDA). Ekstrak atau asap cair dicampurkan ke dalam media, kemudian diinokulasikan dengan jamur Schizophyllum commune. Selanjutnya, pertumbuhan miselium diamati secara berkala untuk mengetahui kemampuan bahan alami dalam menghambat perkembangan jamur.n ekstrak dalam menghambat perkembangan jamur.

Mahasiswa menyiapkan media uji sebagai bagian dari penelitian aktivitas antijamur di Laboratorium Kimia Hasil Hutan. (Dok. Lab KHH)
Setelah proses inkubasi selesai, pertumbuhan jamur pada setiap perlakuan dibandingkan untuk mengevaluasi efektivitas bahan uji. Perbedaan pertumbuhan miselium menjadi indikator dalam menentukan potensi senyawa alami sebagai antijamur pelapuk kayu.

Perbandingan pertumbuhan jamur pada berbagai perlakuan menjadi dasar penilaian aktivitas antijamur. (Dok. Lab KHH)
Mendorong Inovasi Anti jamur Berbasis Hasil Hutan
Berbagai penelitian mahasiswa telah mengangkat potensi hasil hutan sebagai sumber senyawa antijamur alami, di antaranya penelitian mengenai aktivitas antijamur ekstrak tumbuhan, buah hutan, maupun asap cair dari berbagai bahan lignoselulosa. Melalui penelitian tersebut, mahasiswa tidak hanya menguji efektivitas bahan alami terhadap jamur pelapuk kayu, tetapi juga membuka peluang pengembangan bahan pengawet kayu yang lebih ramah lingkungan dan bernilai tambah. Dukungan Laboratorium Kimia Hasil Hutan menjadi bagian penting dalam menghasilkan inovasi berbasis hasil hutan yang mendukung pemanfaatan sumber daya hutan secara berkelanjutan.