SYLVA MEDIA, PONTIANAK – Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura menyelenggarakan Workshop Ecoprint Fahutan UNTAN dalam rangkaian perayaan Dies Natalis ke-25. Workshop ini terselenggara dengan tema “Menjejak Warna Alam Khatulistiwa, Dari Hutan ke Kriya Dunia,” acara ini berlangsung pada Jumat, 21 November 2025, di Aula Meranti, Kampus Lama, dan melibatkan seluruh Dosen, Tenaga Kependidikan (Tendik), serta anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Fahutan UNTAN.
Acara ini bertujuan mengedukasi peserta tentang potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) untuk industri ekonomi kreatif.
Visi Dekan: Produk Unggulan Berbasis Warna Alam
Mengawali kegiatan ini, Workshop secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU.. Beliau menegaskan visi menjadikan Ecoprint sebagai produk unggulan Fakultas.
“Kami berencana kegiatan ini akan mengedukasi masyarakat bahwa banyak sekali bahan alam dari hutan yang bisa menjadi satu produk unggulan yang bisa dibanggakan sampai ke dunia. Nanti semua tamu asing Fakultas Kehutanan akan diberi hadiah ecoprint,” ujar Dr. Farah Diba, menyoroti potensi wirausaha dari produk buatan tangan ini.
Proses Teknis: Mengubah Tanin Menjadi Motif
Narasumber utama, Rio Afiat (Mahasiswa S2 Ilmu Kehutanan), menjelaskan bahwa ecoprint dengan metode kukus (steam) lebih ringkas daripada teknik ponding (pukul). Secara keseluruhan, peserta mempelajari lima tahapan esensial dalam mentransfer motif daun ke kain:
- Pertama, peserta membersihkan kain dari zat kimia (Scoring).
- Kemudian, peserta menjemur kain selama 10-15 menit hingga kering.
- Setelah itu, peserta merendam kain dengan tawas (Mordanting) agar ikatan pewarna menjadi kuat.
- Selanjutnya, peserta menyusun motif dengan menempelkan daun-daunan yang mengandung tanin ke kain.
- Terakhir, peserta menggulung dan mengukus kain (Steaming). Tujuan utamanya adalah memindahkan motif dan warna daun secara permanen ke kain.

Peserta (Dosen dan Tendik) mengikuti sesi praktik penyusunan motif dengan menempelkan daun yang mengandung tanin ke media kain. (Dok. SYLVA MEDIA)
Kompak Berwirausaha: Dari Panci Kukusan ke Produk Jadi
Panitia membagi Dosen, Tendik, dan DWP menjadi beberapa kelompok praktik. Awalnya, mereka melakukan proses scoring dan mordanting kain. Setelah itu, peserta menempelkan motif daun, menggulung, dan mengukus kain—mirip seperti proses pembuatan lemang.
Fakultas berharap kegiatan ini memicu semangat wirausaha di lingkungan Fakultas. Mengingat produk ecoprint memiliki nilai jual tinggi, Fakultas merencanakan koperasi menjual hasil produksi secara kolektif, menunjukkan potensi dalam memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Salah satu hasil produk kain Ecoprint yang dihasilkan setelah melalui lima tahapan proses, menunjukkan potensi handicraft menggunakan bahan alam sekitar kampus. (Dok. SYLVA MEDIA)

