SYLVA MEDIA, SANGGAU – Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Fahutan UNTAN) sukses melaksanakan program unggulan Tera Saintek Ulin Rajut di Desa Bagan Asam, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau. Kegiatan ini merupakan kontribusi Fakultas sebagai bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-25, yang mengusung tema besar: Jejak Lestari Fahutan Untan, Mengakar, Menginspirasi, dari Borneo untuk Dunia.
Program ini diimplementasikan di bawah framework Program Semesta dan Tera Saintek dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang membuka ruang kolaborasi bagi perguruan tinggi untuk membumikan sains. Program ULIN RAJUT (pengumpULan INformasi masyaRAkat berkelanJUTan) adalah kerjasama Fahutan UNTAN, Fakultas Teknik UNTAN, UPA TIK UNTAN, Yayasan Sangga Bumi Lestari dan Desa Bagan Asam.
Visi Dekan: Komitmen UNTAN pada Konservasi Borneo
Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU., menyampaikan arahan institusi dalam kesempatan kunjungannya ke Desa Bagan Asam. Beliau menegaskan kebanggaan institusi terhadap inisiatif ini:
“Kami dari Universitas Tanjungpura dengan bangga mempersembahkan Program Semesta, yaitu program Tera Saintek dengan tema Ulin Rajut. Program ini berupaya agar masyarakat mampu mendokumentasikan keanekaragaman hayati yang ada di Desa Bagan Asam, untuk mendukung kelestarian dari sumber daya alam hayati, khususnya sumber daya hutan.”
Framework Program Semesta: Tera Saintek dan Aplikasi Ulin Rajut
Secara spesifik, Tera Saintek Ulin Rajut adalah inisiatif pemberdayaan yang berupaya agar masyarakat mampu mendokumentasikan dan menyampaikan kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversitas) di wilayah tersebut. Tujuannya adalah terus mengembangkan kelestarian sumber daya alam hayati dan flora fauna, sejalan dengan program pemerintah Republik Indonesia.
Untuk merealisasikannya, Fahutan UNTAN bekerja sama erat dengan Fakultas Teknik UNTAN dan UPA TIK UNTAN dalam mengembangkan aplikasi Ulin Rajut sebagai platform digital utama. Pemilihan Desa Bagan Asam bukan tanpa alasan. Faktanya, kawasan hutan dan kekayaan flora fauna di dusun tersebut masih terjaga, sehingga sangat direkomendasikan untuk studi dan pengabdian. Selain itu, desa ini merupakan kawasan kerja mitra strategis Fahutan, yaitu Yayasan Sangga Bumi Lestari (YSBL), yang merekomendasikan lokasi tersebut.
Mahasiswa dan Masyarakat Merajut Data Konservasi
Selama sembilan hari penuh, tim Fahutan UNTAN yang melibatkan sejumlah mahasiswa secara intensif tinggal di Desa Bagan Asam. Mahasiswa kemudian memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil data penelitian mereka, mencakup berbagai jenis data seperti kupu-kupu, anggrek, tanaman obat, katak, serangga, dan burung.
Secara paralel, mereka mengedukasi masyarakat tentang cara menggunakan aplikasi Ulin Rajut. Dengan demikian, data penelitian tersebut dapat langsung diunggah ke dalam aplikasi, menjadikannya alat yang berkelanjutan untuk pemantauan flora dan fauna.

Mahasiswa Fahutan UNTAN menjelaskan dan mendemonstrasikan cara kerja Aplikasi Ulin Rajut kepada masyarakat, sebagai bagian dari transfer teknologi. (Dok. Tim Tera Saintek Ulin Rajut)
Penutupan Penuh Makna dan Dukungan Lintas Sektor
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pengambilan data selama sembilan hari, tim dosen Fahutan UNTAN dan pihak YSBL menyelenggarakan acara penutupan yang meriah di Desa Bagan Asam. Acara ini dihadiri Camat Toba, Kepala Desa Bagan Asam, Kepala Dusun, pihak HTI setempat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, MPA, dan seluruh masyarakat sekitar.
Dalam forum resmi ini, masyarakat desa khususnya siswa SMP dan para mahasiswa memanfaatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil temuan mereka kepada perwakilan pemerintah desa dan masyarakat.

Momen mahasiswa peserta Tera Saintek Ulin Rajut mempresentasikan hasil temuan biodiversitas mereka kepada perangkat desa, tokoh masyarakat, dan seluruh masyarakat Desa Bagan Asam. (Dok. SYLVA MEDIA)
Kepala Desa Bagan Asam, Bapak Liliapati, menyampaikan apresiasi dan harapan besar terhadap kesinambungan program.
“Kami, masyarakat Bagan Asam, sangat berterima kasih atas dipilihnya desa kami. Program Ulin Rajut ini bukan sekadar alat pendataan, tetapi juga sebuah peluang emas untuk membawa nama Bagan Asam, dengan segala kekayaan alamnya, lebih dikenal masyarakat luas bahkan sampai ke dunia, sesuai dengan semangat ‘Jejak Lestari’ dari UNTAN,” ujar Bapak Liliapati dalam sambutannya.
Pihak-pihak terkait kemudian menyampaikan ucapan terima kasih atas kolaborasi dan kontribusi program ini.