Peserta menyimak paparan narasumber dalam Seminar Nasional KAPUR Series 1 di Aula Bungur Fahutan UNTAN.
Suasana penyampaian materi dalam Seminar Nasional KAPUR Series 1 di Aula Bungur, Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Pontianak, Rabu (30/9/2026).

KAPUR Series 1 Fahutan UNTAN Hubungkan Riset dengan Kebutuhan Lapangan

SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Riset kehutanan perlu berangkat dari persoalan nyata agar hasilnya dapat membantu menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Kolaborasi Akademik dan Publikasi Unggulan Riset (KAPUR) Series 1 yang diselenggarakan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN), Rabu (30/9/2026).

Berlangsung secara hibrida di Aula Bungur, Fakultas Kehutanan UNTAN, dan melalui Zoom, seminar mengangkat tema “Inovasi Kehutanan Tropis untuk Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi: Optimalisasi Teknologi Budidaya, Konservasi dan Manajemen Cerdas Hasil Hutan”. Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, dunia usaha, lembaga pendamping masyarakat, mahasiswa, dan alumni.

Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Prof. Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU, menekankan pentingnya menentukan arah penelitian berdasarkan kebutuhan penyelesaian masalah.

“Sebagai peneliti kita tidak hanya bertanya apa yang bisa diteliti, tapi apa masalah yang harus kita selesaikan melalui penelitian,” tegas beliau.

Menurut Prof. Farah, penelitian perlu dikembangkan menjadi inovasi melalui kolaborasi agar dapat memberikan manfaat. Beliau berharap seminar menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus mempererat hubungan fakultas dengan para mitra dalam pembangunan kehutanan.

Menghubungkan Riset dengan Kebutuhan Lapangan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Ir. H. Adi Yani, M.H., yang hadir sebagai pembicara utama, memaparkan tantangan pengelolaan kehutanan di wilayah pedalaman, pesisir, kepulauan, dan perbatasan. Perbedaan karakter wilayah tersebut, menurut beliau, membutuhkan pendekatan pengelolaan yang sesuai dengan kondisi setempat.

Bapak Adi Yani menyoroti peluang keterlibatan akademisi dalam pendampingan perhutanan sosial, mulai dari penguatan kelembagaan, pengelolaan kawasan, hingga pengembangan usaha. Potensi hasil hutan bukan kayu juga membuka ruang penelitian untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya yang dimanfaatkan masyarakat.

“Harus kolaborasi untuk hutan lestari dan masyarakat sejahtera,” ujar beliau.

Bapak Adi Yani berbicara menggunakan mikrofon di meja narasumber KAPUR Series 1.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Ir. H. Adi Yani, M.H., menyampaikan paparan sebagai pembicara utama Seminar Nasional KAPUR Series 1 di Fakultas Kehutanan UNTAN, Rabu (30/9/2026).

Pembahasan kemudian diperluas melalui sesi narasumber yang menghubungkan perlindungan ekosistem dengan pemanfaatan hasil hutan. Materi mencakup fungsi hutan dan lahan gambut sebagai penyimpan air serta karbon, rekayasa kayu sesuai tujuan penggunaan, dan konservasi keanekaragaman hayati pada skala lanskap.

Perspektif dunia usaha dan lembaga pendamping turut memperkaya diskusi melalui pengalaman pengelolaan hutan, pengembangan usaha masyarakat, serta pemanfaatan data untuk mendukung perencanaan. Ketersediaan pasar bagi komoditas masyarakat juga menjadi perhatian agar pendampingan ekonomi dapat berlanjut setelah suatu program selesai.

Melalui materi tersebut, peserta diajak melihat keterkaitan antara penelitian, kebijakan, praktik usaha, dan kebutuhan masyarakat dalam pengelolaan hutan tropis.

Memperluas Publikasi melalui Presentasi Ilmiah

Selain mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, KAPUR Series 1 menjadi wadah presentasi dan pengembangan publikasi ilmiah. Berdasarkan laporan panitia, sebanyak 179 pemakalah dijadwalkan menyampaikan hasil penelitian, dengan hampir 90 persen berasal dari alumni Fakultas Kehutanan UNTAN.

Prof. Farah menjelaskan bahwa kegiatan ini juga ditujukan untuk mendukung publikasi mahasiswa dan lulusan baru. Presentasi hasil penelitian dilaksanakan melalui sesi di masing-masing ruang Zoom, sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan dalam seminar.

Tampilan Room 8 Zoom dengan dua panel video besar dan deretan video peserta KAPUR Series 1.
Suasana sesi presentasi pemakalah Seminar Nasional KAPUR Series 1 melalui Zoom, Rabu (30/9/2026). Dokumentasi memperlihatkan salah satu ruang pertemuan daring, yakni Room 8.

Penguatan jejaring tersebut menjadi bagian dari Forestry UNTAN Network (FORTAN), yang mempertemukan alumni dan mitra untuk mendukung pengelolaan hutan lestari. Panitia berharap pertukaran gagasan dalam seminar dapat dikembangkan menjadi penelitian bersama dan publikasi yang menjawab kebutuhan lapangan.

Arah kegiatan ini sejalan dengan pengembangan pendidikan dan penelitian Fahutan UNTAN berbasis sumber daya hutan tropis. Pembahasan perlindungan ekosistem serta kerja sama lintas pihak juga relevan dengan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Tag

Terhubung dengan Fahutan UNTAN

Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *