Kolaborasi Fahutan UNTAN, GIZ & Göttingen: Budidaya Kelulut Jadi Solusi Dorong Ekonomi Perempuan dan Konservasi di Areal Sawit

Narasumber Budidaya Lebah Kelulut Fahutan UNTAN Paparkan Riset dan Pengalaman

SYLVA MEDIA, PONTIANAK – Menyatakan komitmen Fakultas terhadap inovasi dan pemberdayaan masyarakat, Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Fahutan UNTAN) menyelenggarakan Lokakarya. Faktanya, kegiatan bertajuk “Mendorong Partisipasi Ekonomi Perempuan dan Konservasi Hutan Melalui Budidaya Lebah Kelulut di Areal Perkebunan Kelapa Sawit” ini berlangsung pada Rabu, 5 November 2025, mulai pukul 11.00 WIB di Aula Bungur Fahutan UNTAN. Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Fahutan UNTAN.

Kegiatan ini terwujud berkat kolaborasi dengan GIZ GRASS, University of Göttingen (Jerman), dan IPB University.

Komitmen Dekan: Mendukung Optimalisasi Kebun Sawit

Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU., membuka lokakarya. Beliau kemudian menyerukan inisiatif untuk “berdamai dengan sawit.” Oleh karena itu, Beliau mengajak semua pihak mengoptimalkan kebun sawit yang sudah ada melalui pola agroforestri, seperti budidaya madu kelulut.

“Yang sudah ada sawitnya, kita hijaukan lagi dengan pola-pola agroforestry. Kita harus optimalisasi kebun sawit yang ada menjadi usaha madu kelulut atau komoditas lainnya,” tegas Dr. Farah Diba.

Temuan Riset Global dan Kenaikan Pendapatan

Sesi utama menghadirkan Muhammad Reza Halomoan (Research Consultant, University of Göttingen). Ia secara rinci memaparkan hasil studi Randomized Control Trial (RCT). Temuan studi menunjukkan, budidaya kelulut merupakan kandidat pelengkap ideal mengingat 84% perempuan tertarik menghasilkan pendapatan tambahan.

Selanjutnya, Technical Advisor GIZ GRASS, Samsul Abidin (Alumnus Fahutan UNTAN), menjelaskan budidaya kelulut berfungsi sebagai strategi mitigasi yang penting. Menurutnya, program ini sangat efektif mendorong petani mempertahankan kebun campur di sekitar areal sawit, sehingga mencegah perluasan monokultur.

Suara Petani dan Tantangan Sertifikasi

Berikutnya, Ibu Mujiem Mustriana Sari (Champion Farmer), perwakilan Petani dari Kapuas Hulu, memberikan testimoni inspiratif. Beliau mengungkapkan budidaya kelulut hanya butuh rata-rata 3 jam per minggu, meski demikian, dari tiga sarang aktif, ia meraih penghasilan tambahan hingga Rp600.000 per bulan.

“Menurut saya, budidaya lebah kelulut itu pilihan menarik dan berkelanjutan. Dia memiliki potensi jual yang tinggi dan manfaat kesehatan yang baik,” ujar Ibu Mujiem.

Ibu Mujiem Champion Farmer Lebah Kelulut Fahutan UNTAN Berikan Paparan

Ibu Mujiem Mustriana Sari, Champion Farmer dari Kapuas Hulu, memberikan paparan pengalaman keberhasilan budidaya Lebah Kelulut di areal sawit. (Dok. SYLVA MEDIA)

Sebagai respons, diskusi segera diperkaya oleh masukan dari Dinas Perkebunan/Peternakan. Mereka menyoroti tantangan kelembagaan, yakni perlunya pengurusan sertifikat NKV (Nomor Kontrol Veteriner) dan kajian Indikasi Geografis (IG) untuk meningkatkan nilai jual madu Kapuas Hulu.

Keberlanjutan Proyek Melalui GCF

Menjelang penutupan, Adi Rahmat dari tim teknis GIZ-GCF (Green Climate Fund) memberikan konfirmasi penting. Ia menyatakan inisiatif budidaya kelulut akan berlanjut. Pasca-proyek GRAS berakhir, Proyek GCF (berdurasi 7 tahun) langsung mengintegrasikan program kelulut di lima kabupaten Kalimantan Barat. Dengan demikian, GCF menjamin keberlanjutan program dan pemberdayaan perempuan di sektor ini.

Tinggalkan Komentar