SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) berkolaborasi dengan Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Mikroba Karst Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Seminar Keilmuan dari Praktisi dan Industri RAMIN Series-67. Kegiatan ini berlangsung di Aula Bungur, Gedung Prof. Ir. Sakunto, M.Sc Fahutan UNTAN, pada Senin (10/08/2026).
Mengusung tema “Sinergi Riset Mikrobiologi, Ekosistem Karst, dan Genomik Tumbuhan untuk Pembangunan Berkelanjutan”, seminar ini menjadi ajang penguatan wawasan sains mutakhir bagi sivitas akademika. Diskusi berfokus pada pemanfaatan bioteknologi, eksplorasi mikroba, hingga rekayasa genetika demi menjawab tantangan krisis lingkungan dan kelestarian hutan tropis.
Buka Wawasan Riset Bioteknologi Kehutanan
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU. Dalam sambutannya, Dekan menggarisbawahi peran krusial mikroorganisme dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan.
“Mikroorganisme ini kerap tidak terlihat secara kasat mata, namun memegang peranan yang sangat penting tidak hanya dalam bidang kehutanan, melainkan juga bagi pembangunan dan daya dukung lingkungan. Kolaborasi bersama BRIN dan UNHAS ini diharapkan membuka wawasan mahasiswa dalam memperkuat riset-riset kehutanan masa depan,” ujar Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU.
Transformasi Paradigma: Dari Eksploitasi Menuju Green Bioeconomy
Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng., hadir sebagai narasumber sesi pertama. Beliau mengajak mahasiswa mengubah pola pikir riset agar berorientasi pada solusi nyata krisis iklim, kebakaran hutan, dan degradasi lahan.
Dr. Ahmad Fathoni menegaskan pentingnya pergeseran dari sekadar mengeksploitasi biomassa alam (harvest biomass) menuju pemahaman biologi molekuler dan konsep green bioeconomy di laboratorium. Pada kesempatan ini, BRIN turut mensosialisasikan fasilitas riset canggih seperti Cryo-EM, skema pendanaan rintisan usaha (startup), hingga beasiswa Degree by Research (S2/S3).
“Masa depan kehutanan bertumpu pada green bioeconomy, di mana kita memahami biologi dan genetikanya untuk dikembangkan di laboratorium, sehingga hutan kita tetap lestari tanpa harus dieksploitasi habis,” tegas Dr. Ahmad Fathoni.

Transformasi Riset: Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng. (BRIN) memaparkan konsep green bioeconomy serta peluang beasiswa riset bagi mahasiswa kehutanan. (Dok. Sylva Media)
Menyingkap Harta Karun Mikroba Ekosistem Karst
Sesi kedua menghadirkan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Dr. Retno Prayudyaningsih, S.Si., M.Si.. Beliau membedah fenomena paradoks ekosistem karst yang tampak gersang di permukaan, namun menyimpan kekayaan mikroba luar biasa di bawah tanah.
Dr. Retno memaparkan potensi bakteri pengikat nitrogen, pelarut fosfat, serta fungi mikoriza dalam program bioreklamasi lahan pascatambang kapur dan nikel. Selain itu, beliau menjelaskan peluang pemanfaatan jamur entomopatogen sebagai biopestisida ramah lingkungan dan jamur makro (seperti kulat pelawan) untuk ekonomi masyarakat.
“Karst adalah laboratorium alam raksasa yang menyimpan jutaan mikroba potensial untuk bioreklamasi lahan kritis, biopestisida ramah lingkungan, hingga peningkatan ekonomi masyarakat,” terang Dr. Retno Prayudyaningsih.

Potensi Ekosistem Karst: Dr. Retno Prayudyaningsih (BRIN) menguraikan pemanfaatan mikroba karst dalam teknologi bioreklamasi dan biopestisida alami. (Dok. Sylva Media)
Pemanfaatan Genomik dan Perlindungan Sumber Daya Genetik
Narasumber sesi ketiga, Guru Besar sekaligus Kapuslitbang Natural Heritage and Biodiversity LPPM UNHAS, Prof. Dr. Ir. Siti Halimah Larekeng, S.P., M.P., memaparkan pentingnya analisis DNA dan bioteknologi pada jenis pohon tropis seperti Tengkawang, Eboni, dan Vitex cofassus.
Prof. Siti Halimah menekankan bahwa data keragaman genetik berbasis DNA merupakan fondasi mutlak dalam penetapan Areal Sumber Daya Genetik (ASDG). Informasi ini menjadi rujukan ilmiah utama agar kawasan bernilai genetik tinggi tidak hilang akibat alih fungsi lahan.
“Konservasi kehutanan modern tidak bisa lagi hanya berhenti pada pengamatan morfologi luar. Informasi genetik dan DNA barcoding adalah fondasi mutlak untuk membuktikan keaslian jenis endemik kita serta menjadi dasar ilmiah penetapan Areal Sumber Daya Genetik,” jelas Prof. Siti Halimah.

Genomik Konservasi: Prof. Dr. Ir. Siti Halimah Larekeng (UNHAS) menjelaskan urgensi DNA barcoding untuk perlindungan jenis pohon endemik Indonesia. (Dok. Sylva Media)
Sinergi Kolaborasi Riset Lintas Lembaga
Diskusi yang dipandu oleh Prof. Dr. Ir. Hanna Artuti Ekamawanti, M.Si., berlangsung dinamis dengan antusiasme tanya jawab mahasiswa mengenai mitigasi kebakaran lahan gambut, degradasi limbah mikroplastik, hingga reklamasi tambang. Rangkaian kegiatan ini diperkuat dengan komitmen penandatanganan kerja sama riset antara Fahutan UNTAN dan PKR Mikroba Karst.

Diskusi Interaktif: Mahasiswa Fahutan UNTAN aktif berdiskusi mengenai isu restorasi gambut dan bioreklamasi bersama para narasumber ahli. (Dok. Sylva Media)