SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) kembali menggelar forum strategis Pulai Series 25 pada Rabu (4/2/2026). Mengusung semangat kolaborasi “Triple Helix”, kegiatan ini mempertemukan unsur akademisi, asosiasi profesi, dan pemerintah daerah untuk membedah tantangan dunia kehutanan masa depan.
Bertempat di Aula Bungur, Gedung Prof. Sakunto, MS, acara ini menjadi momentum penting bagi Fahutan UNTAN untuk mempererat kerja sama akademik dengan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Pusat.
Integrasi Kurikulum dan Kebutuhan Industri
Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU, dalam sambutannya menekankan pentingnya mendekatkan mahasiswa dengan dunia kerja sejak dini. Dengan dukungan 49 dosen dan 8 Guru Besar, Fahutan UNTAN siap mencetak rimbawan unggul melalui empat bidang minat utama: Teknologi Hasil Hutan, Budidaya, Konservasi, dan Manajemen Hutan.
“Kami sangat membutuhkan kehadiran praktisi APHI untuk masuk ke kampus memberikan kuliah umum. Kolaborasi ini akan membuat keilmuan mahasiswa menjadi lebih implementatif dan relevan dengan kondisi lapangan,” ujar Dr. Farah Diba.

Dekan Fahutan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU, saat memaparkan pentingnya kurikulum berbasis praktisi. (Dok. SYLVA MEDIA)
Merespons hal tersebut, Ketua Umum APHI Pusat, Dr. Ir. H. Soewarso, M.Si, IPU, menyatakan komitmen asosiasi untuk mendukung penuh. “Kami siap memfasilitasi magang mahasiswa dan menjadikan aset kampus seperti KHDTK Mandor sebagai laboratorium alam yang produktif,” tegasnya.
Dukungan Strategis Pemerintah dan Lintas Sektor
Hadirnya Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Kalimantan Barat, Ir. H. Adi Yani, M.H., memberikan bobot tersendiri dalam diskusi ini. Dalam sesi khusus, Adi Yani menegaskan bahwa pemerintah sangat membutuhkan dukungan riset dari kampus.
“Kalimantan Barat akan segera memulai program penurunan emisi dengan dukungan pendanaan hijau yang besar. Kami tidak bisa jalan sendiri. Kami butuh Fahutan UNTAN, terutama untuk pengembangan bibit melalui teknologi kultur jaringan agar rehabilitasi lahan lebih masif,” ungkap Adi Yani.

Dukungan Pemerintah: Kadis LHK Kalbar, Ir. H. Adi Yani, M.H., menegaskan pentingnya peran riset Fahutan UNTAN dalam program pendanaan hijau Kalimantan Barat. (Dok. SYLVA MEDIA)
Menariknya, forum ini juga dihadiri oleh perwakilan sektor pertambangan yang menyatakan minatnya untuk berkolaborasi. Pihak tambang membuka diri untuk bekerja sama dengan ahli kehutanan UNTAN dalam melakukan reklamasi lahan bekas tambang dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konsesi.
Menuju Ekosistem Kehutanan Berkelanjutan
Pada akhirnya, Pulai Series #25 menyimpulkan bahwa pengelolaan hutan tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Oleh karena itu, sinergi antara kurikulum akademik yang adaptif, dukungan kebijakan pemerintah, dan keterlibatan aktif sektor swasta (APHI dan Tambang) menjadi kunci utama.
Selanjutnya, hasil diskusi ini akan segera ditindaklanjuti dengan penyusunan jadwal kuliah tamu dari praktisi serta riset bersama untuk menjawab tantangan rehabilitasi hutan di Kalimantan Barat.