SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) secara proaktif memperkuat kontribusinya dalam pelestarian ekosistem pesisir melalui forum strategis Training of Trainers (ToT) Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR). Selain itu, delegasi fakultas secara intensif mengikuti pelatihan hasil kerja sama Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Kalimantan Barat dan Yayasan Hutan Biru (Blue Forests) ini . Kemudian, agenda besar tersebut berlangsung pada 9–12 Februari 2026 bertempat di Hotel Mercure Pontianak guna meningkatkan kapasitas teknis para rimbawan dalam mengelola ekosistem mangrove secara berkelanjutan
Menjawab Tantangan Kegagalan Rehabilitasi Konvensional
Namun, upaya rehabilitasi mangrove di Indonesia selama beberapa dekade terakhir masih menghadapi tantangan serius karena angka kegagalan ekologis di lapangan mencapai lebih dari 70% di berbagai wilayah. Hal ini terjadi karena banyak pihak hanya berfokus pada pendekatan penanaman bibit secara konvensional tanpa memulihkan kondisi hidrologi alami habitat terlebih dahulu. Oleh karena itu, pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) menawarkan solusi transformatif dengan memprioritaskan pemulihan proses ekologi dasar sebagai prasyarat utama keberhasilan rehabilitasi. Maka, melalui pelatihan ini, UNTAN berupaya menghapus tren rehabilitasi semu yang seringkali hanya mengejar target administratif semata.
Sinergi Strategis Pimpinan dan Pakar Kehutanan
Selanjutnya, Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU, secara langsung memberikan dukungan institusional dengan menghadiri pembukaan forum strategis tersebut. Sekaligus, Dr. Farah Diba turut berpartisipasi aktif sebagai penanggap dalam diskusi panel yang membahas kebijakan ekonomi biru dan pengelolaan ruang laut.
Keterlibatan pimpinan fakultas ini memperkuat kolaborasi Triple Helix dalam upaya mensinkronkan kebijakan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan praktisi lapangan. Dengan demikian, Fakultas Kehutanan UNTAN secara nyata berperan sebagai jembatan antara kajian akademis dan implementasi teknis pengelolaan sumber daya alam di tingkat tapak.
Implementasi Lapangan dan Mitigasi Perubahan Iklim
Tidak hanya itu, para peserta pelatihan juga akan melakukan kunjungan lapangan langsung ke Sungai Kupah (Jeruju Besar), Kabupaten Kubu Raya, untuk mempraktikkan ilmu yang telah mereka pelajari. Di sana, mereka akan melakukan simulasi pengukuran area tumbuh, pengenalan zonasi, serta penilaian faktor gangguan ekosistem menggunakan 6 langkah metode EMR secara presisi. Kemudian, seluruh data hasil lapangan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dalam menyusun rancangan teknis rehabilitasi yang lebih aplikatif. Pada akhirnya, penguasaan teknik EMR ini akan membantu Kalimantan Barat dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta mendukung mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon biru yang optimal.