SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Keluarga besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Tanjungpura (UNTAN) menyelenggarakan peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H dengan penuh khidmat di Aula Bungur, Kampus Baru Fahutan UNTAN. Kegiatan yang diinisiasi oleh UKM FKMI Asy-Syajaroh ini mengangkat tema “Memaknai Momentum Nuzulul Qur’an di Zaman Serba Instan”.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, pensiunan, serta mahasiswa. Hadir sebagai penceramah utama adalah Ust. Solihin HZ., S.Ag., M.Pd.I yang merupakan Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalbar sekaligus Kepala MAN 1 Pontianak.
Tanggung Jawab Rimbawan dalam Al-Qur’an
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut, M.Si, IPU., menekankan bahwa peringatan ini merupakan upaya untuk mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dan profesi sebagai rimbawan. Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah mencatat terjadinya kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia, sehingga rimbawan memiliki kewajiban moral untuk menjaga keseimbangan alam.
“Mari kita menjadi rimbawan yang benar-benar menjaga ekologis dan bertanggung jawab dengan mengimplementasikan apa yang tertulis di Al-Qur’an untuk alam dan hutan lestari,” tutur Dr. Ir. Farah Diba saat membuka acara secara resmi.
Al-Qur’an sebagai Obat dan Kompas Kehidupan
Ust. Solihin HZ dalam tausiyahnya mengajak audiens untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai asupan utama bagi ruhaniah agar tetap tenang menghadapi tantangan zaman. Beliau menjelaskan bahwa intisari seluruh kitab suci terangkum dalam Al-Qur’an, diperas ke dalam Al-Fatihah, dan bermuara pada ayat pertama yang mengenalkan Allah melalui asma Ar-Rahman dan Ar-Rahim—sifat Maha Kasih dan Sayang.

Spirit Rimbawan: Suasana khidmat para peserta saat menyerap ilmu dari tausiyah Ust. Solihin HZ guna memperkuat spiritualitas di zaman instan. (Dok. SYLVA MEDIA)
Beliau memaparkan pentingnya lingkungan pertemanan yang positif (bi’ah shalihah) dalam menjaga konsistensi ibadah. Melalui analogi perjalanan bersama ke Singkawang, beliau menggambarkan bagaimana perilaku individu dalam sebuah kelompok akan dipengaruhi oleh mayoritas lingkungannya. Hal ini merujuk pada pesan Al-Qur’an mengenai pentingnya ketelitian dalam memilih teman agar tidak menyesal di akhirat kelak.
Secara mendalam, Ust. Solihin juga membedah keunikan bahasa Al-Qur’an terkait ibadah puasa, membedakan antara istilah Siam (menahan diri secara total termasuk panca indera) dengan Sawm (menahan bicara atau menahan sebagian). Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah obat ruhan. Beliau mengisahkan seorang pemuda yang seketika merasa tenang jiwanya setelah melaksanakan salat dan mendengarkan lantunan ayat suci, membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah asupan makanan rohani yang utama saat seseorang merasa gundah.
Penutup dan Silaturahmi
Sebagai penutup rangkaian agenda, kegiatan diakhiri dengan buka puasa bersama. Momen ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antar civitas akademika dan alumni, sekaligus mensyukuri kebersamaan di bulan suci Ramadhan dalam semangat rimbawan yang religius.

Mempererat Silaturahmi: Momen kebersamaan pimpinan, dosen, dan mahasiswa dalam rangkaian peringatan Nuzulul Qur’an. (Dok. SYLVA MEDIA)

