SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Tanjungpura (UNTAN) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 22 April 2026, di Aula Bungur Fahutan UNTAN ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan JARI Indonesia Borneo Barat dan didukung penuh oleh The Asia Foundation.
Sinergi Akademisi dan Praktisi Lapangan
Acara ini menjadi ruang dialog penting yang mempertemukan kalangan akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi lingkungan. Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU., dalam pembukaannya menekankan bahwa integrasi perspektif gender dalam kebijakan iklim merupakan elemen penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pesan Akademis: Dr. Ir. Farah Diba menekankan pentingnya integrasi perspektif gender dalam kebijakan mitigasi perubahan iklim. (Dok. SYLVA MEDIA).
“Harapan kita semua sumber daya alam itu bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar hutan, karena kami yakin masyarakat yang sejahtera di sekitar hutan akan turut serta melestarikan hutan,” ujar Dr. Farah Diba. Beliau juga menambahkan bahwa kisah inspiratif dari para perempuan penjaga hutan yang hadir diharapkan mampu menjadi panduan bagi mahasiswa saat nantinya terjun menjadi pendamping di masyarakat.
Komitmen Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim
Dukungan terhadap peran strategis perempuan juga disampaikan oleh Country Representative The Asia Foundation, Ibu Hana Satrio, melalui pesan video. Beliau menegaskan bahwa krisis iklim bukan hanya soal lingkungan, melainkan juga persoalan keadilan, akses, dan kepemimpinan. “Perempuan bukan hanya kelompok yang terdampak, tetapi mereka berada di garis depan dalam merawat lingkungan dan menjadi bagian penting dari solusi aksi iklim yang nyata,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif JARI Indonesia Borneo Barat, Bapak Hendy Erwindi, menjelaskan bahwa pendampingan di tingkat tapak telah membuktikan potensi kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan hutan. “Keterlibatan perempuan itu bukan agenda tambahan, tetapi menjadi agenda yang wajib dilakukan. Setiap perempuan harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan terkait akses dan pengelolaan sumber daya alam,” tegas Hendy.
Rangkaian Agenda Utama dan Dukungan Multipihak
Kegiatan ini menonjolkan dua agenda besar, yakni sesi Talkshow Inspiratif yang menghadirkan Women Champions dari Desa Sungai Deras dan Desa Kalibandung, serta Penandatanganan Kerjasama (MoU) antara Fahutan UNTAN dan JARI Indonesia Borneo Barat sebagai komitmen kolaborasi pengabdian masyarakat jangka panjang.
Seminar nasional ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri dari civitas akademika UNTAN, mahasiswa dari berbagai universitas di Pontianak seperti Universitas Muhammadiyah Pontianak, Universitas OSO, Universitas Panca Bhakti, dan Universitas PGRI Pontianak . Hadir pula perwakilan organisasi masyarakat sipil seperti Gemawan dan WALHI Kalbar. Sinergi ini diharapkan dapat memicu semangat generasi muda untuk terlibat aktif dalam gerakan keadilan iklim yang responsif gender.

Antusiasme Generasi Muda: Seminar ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta guna mendorong gerakan keadilan iklim yang responsif gender. (Dok. SYLVA MEDIA)

