Peserta monev bioprospeksi tengkawang berfoto bersama di Aula Bungur Fahutan UNTAN dengan mengangkat kepalan tangan.
Tim Fahutan UNTAN, TFCA Kalimantan, dan peserta berfoto bersama dalam rangkaian monitoring dan evaluasi program bioprospeksi tengkawang di Aula Bungur Fahutan UNTAN, Pontianak, 15–16 September 2026.

Fahutan UNTAN dan TFCA Kalimantan Evaluasi Riset Bioprospeksi Tengkawang

SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Pemetaan 214 pohon tengkawang dan perkembangan analisis bioaktif menjadi bagian dari capaian awal yang dibahas Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) bersama TFCA Kalimantan. Pembahasan berlangsung dalam Monitoring dan Evaluasi Laporan Progres Termin 1 program Membangun Model Bioprospeksi Tengkawang Berkelanjutan di Aula Bungur Fahutan UNTAN, 15–16 September 2026.

Forum ini meninjau pelaksanaan riset periode 1 April–31 Agustus 2026, realisasi anggaran, dan rencana kerja semester berikutnya. Program menghubungkan konservasi tengkawang dengan kajian potensi pemanfaatannya, aspek ekonomi, serta kebijakan berbasis komunitas di Kalimantan Barat.

Dalam undangan resmi Fakultas Kehutanan UNTAN, tujuan kegiatan dijelaskan sebagai berikut.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan capaian pelaksanaan program kepada TFCA Kalimantan selaku pemberi dukungan pendanaan, sekaligus memperoleh masukan, arahan, dan persetujuan atas rencana tindak lanjut kegiatan pada periode berikutnya.”

Bapak Herman Suparman Simanjuntak turut menyampaikan evaluasi pelaksanaan program. Masukan dalam forum menjadi bahan bagi tim untuk menyempurnakan pekerjaan lapangan, analisis laboratorium, dan pelaporan pada tahap berikutnya.

Bapak Herman Suparman Simanjuntak menyampaikan evaluasi program bioprospeksi tengkawang Fahutan UNTAN.
Bapak Herman Suparman Simanjuntak menyampaikan evaluasi pelaksanaan program bioprospeksi tengkawang dalam rangkaian monev bersama Fahutan UNTAN dan TFCA Kalimantan, 15–16 September 2026.

Enam Jenis dan 214 Pohon Terpetakan

Di Desa Sahan, tim menyusun peta partisipatif sebaran tengkawang dan mencatat 214 individu pohon, termasuk 165 individu di areal hutan adat. Enam jenis tengkawang teridentifikasi, dengan Rubroshorea pinanga sebagai jenis yang paling banyak ditemukan, yakni 113 individu.

Kajian etnobotani mendokumentasikan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan buah, lemak, kayu, damar, dan bagian lain tengkawang untuk pangan, obat tradisional, ritual adat, hingga bahan bangunan. Masyarakat juga mengenali jenis berdasarkan bentuk buah, karakter sayap, dan habitat tumbuhnya.

Di Desa Tae, proses persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (Padiatapa) melibatkan 48 orang, terdiri atas 17 perempuan dan 31 laki-laki. Pertemuan menghasilkan peta awal lokasi pohon dan jalur panen, catatan pengolahan serta aturan adat, dan kesepakatan tentang informasi sensitif yang tidak dibuka kepada publik.

Melanjutkan Analisis Bioaktif di Laboratorium

Pada komponen laboratorium, program membeli 600 kilogram buah tengkawang dari Desa Sahan untuk diolah menjadi serbuk dan dianalisis lebih lanjut. Tahapan penelitian mencakup pengujian kadar air, ekstraksi, fraksinasi, sokletasi, dan evaporasi untuk mengenali potensi senyawa bioaktif sebagai dasar pengembangan produk bernilai tambah.

Proses evaporasi belum selesai karena salah satu alat mengalami kerusakan. Tim merencanakan pengujian sifat fisik dan kimia, skrining fitokimia, serta analisis senyawa bioaktif pada semester kedua; perbaikan atau penambahan alat evaporasi menjadi salah satu kebutuhan yang dicatat dalam monev.

Tim TFCA Kalimantan mengunjungi laboratorium penelitian tengkawang di Fakultas Kehutanan UNTAN.
Tim TFCA Kalimantan mengunjungi laboratorium penelitian Fahutan UNTAN dalam rangkaian monitoring dan evaluasi program bioprospeksi tengkawang, 15–16 September 2026

Keterlibatan mahasiswa dalam pemetaan dan analisis laboratorium memperkuat pembelajaran berbasis riset. Pendekatan ini sejalan dengan arah pendidikan, penelitian, dan pengabdian Fahutan UNTAN berbasis sumber daya hutan tropis, sekaligus relevan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Menyiapkan Tahap Berikutnya

Evaluasi turut mencatat perlunya penyempurnaan dokumen pertanggungjawaban, inventaris, dan arsip program. Pada semester kedua, tim merencanakan validasi peta, kelanjutan analisis bioaktif, penyusunan publikasi, serta finalisasi peta jalan bioprospeksi tengkawang Kalimantan Barat, disertai koordinasi dengan KPH Bengkayang dan Sanggau.

Pemetaan tegakan memberi dasar bagi konservasi tengkawang yang relevan dengan SDG 15, sedangkan kajian pemanfaatannya diarahkan pada peluang ekonomi dan penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab sesuai SDG 8 dan SDG 12. Kemitraan fakultas, TFCA Kalimantan, masyarakat, dan pengelola kawasan mendukung SDG 17; pengembangan produk serta manfaat ekonominya masih memerlukan penelitian lanjutan.

Tag

Terhubung dengan Fahutan UNTAN

Komentar

1 komentar untuk “Fahutan UNTAN dan TFCA Kalimantan Evaluasi Riset Bioprospeksi Tengkawang”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *