Peserta Seminar Nasional MAPEKI XXIX berfoto bersama di ruang pertemuan, dengan sejumlah peserta memegang cendera mata.
Narasumber, panitia, dan peserta berfoto bersama dalam Seminar Nasional MAPEKI XXIX di University Club UGM, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).

Dorong Bioekonomi dan Hutan Lestari: Fahutan UNTAN Tekankan Kolaborasi Riset melalui Seminar Nasional MAPEKI XXIX

SYLVA MEDIA, YOGYAKARTA — Hasil penelitian kehutanan perlu terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan industri agar dapat mendukung bioekonomi sekaligus menjaga kelestarian hutan. Pesan ini mengemuka dalam Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XXIX di University Club Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).

Ketua Umum MAPEKI sekaligus Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN), Prof. Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU, membuka seminar dan mendorong pengembangan kolaborasi setelah forum berakhir. Beliau berharap pertukaran pengetahuan dapat berlanjut menjadi gagasan dan inovasi yang diterapkan.

“Dan kami berharap kolaborasi ini bisa diimplementasikan, bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, bisa juga diimplementasikan untuk kebutuhan industri,” ujar Prof. Farah.

Pembicara berhijab ungu muda menyampaikan sambutan di podium berhias bunga, di samping bendera Merah Putih.
Penyampaian sambutan pada pembukaan Seminar Nasional MAPEKI XXIX di University Club UGM, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).

Seminar mengangkat integrasi teknologi, kearifan lokal, dan transformasi pemanfaatan hutan serta hasil hutan untuk mendukung bioekonomi dan FOLU Net Sink 2030. Dalam laporan yang disampaikan Ibu Dr. Hikma Yanti, S.Hut., M.Si., panitia mencatat sekitar 92 peserta daring dan luring, meliputi pemakalah oral, poster, dan partisipan.

Ibu Hikma menekankan bahwa hutan merupakan bagian dari sistem ekologis, sosial, dan ekonomi. Karena itu, pemanfaatannya membutuhkan perpaduan pengetahuan ilmiah, kemajuan teknologi, kearifan lokal, serta kebutuhan masyarakat.

Mempertemukan Sains dan Kearifan Lokal

Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Dr. Ir. Ganis Lukmandaru, S.Hut., M.Agr., IPU, memaparkan penelitian jati klon dan pengaruh perlakuan silvikultur terhadap sifat kimia kayu. Penelitian tersebut menunjukkan pentingnya mempertimbangkan kualitas kayu dalam pengembangan tanaman, selain pertumbuhan dan volume produksinya.

Dari perspektif daerah, Sekretaris Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Dr. Aris Toteles Ap, S.Hut., M.Hut., menyoroti pengelolaan hutan bersama masyarakat adat. Bapak Aris memaparkan pengembangan hasil hutan bukan kayu dan ekowisata, serta kebutuhan penelitian untuk menyelaraskan kebijakan dengan kondisi masyarakat setempat.

Direktur PT Mayawana Persada, Iwan Budiman, S.Hut., berbagi pengalaman pengembangan pembibitan dan pengelolaan hutan tanaman di Kalimantan Barat. Bapak Iwan juga memaparkan kolaborasi pemantauan kawasan konservasi bersama Fahutan UNTAN, termasuk penggunaan kamera pemantau untuk mendokumentasikan satwa liar.

Menghubungkan Pengetahuan dengan Industri

Kepala Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan, Kementerian Kehutanan RI, Dodi Sumardi, S.Hut., M.T., M.P.P., menekankan perlunya menghubungkan hasil riset dengan rekomendasi kebijakan dan praktik pengelolaan. Bapak Dodi mengangkat bambu sebagai titik temu pengembangan ekonomi masyarakat, industri hijau, dan jasa lingkungan.

Ketua Asosiasi Ahli Kayu Rekayasa Indonesia, Dr. Ir. Maryoko Hadi, memaparkan peluang produk kayu rekayasa untuk konstruksi. Beliau menjelaskan rencana menjembatani publikasi ilmiah dengan kebutuhan manufaktur agar hasil penelitian lebih mudah dipahami dan dipilih untuk penerapan di industri.

“Jadi industri bisa memanfaatkan hasil penelitian, para peneliti bisa menyebarkan hasil penelitian itu kepada masyarakat di dunia industri,” ujar Bapak Maryoko.

Pembicara berbaju batik menyampaikan materi di podium, dengan layar presentasi dan peserta di ruang seminar.
Pemaparan materi oleh narasumber dalam Seminar Nasional MAPEKI XXIX di University Club UGM, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).

Rangkaian pemaparan memperlihatkan kebutuhan kolaborasi antara pengembangan teknologi, perlindungan ekosistem, dan pemerataan manfaat bagi masyarakat. Forum juga mencakup tiga kelompok keilmuan, yaitu karakteristik kayu, biokomposit, arsitektur serta rekayasa kayu dan bambu; kimia hasil hutan dan peningkatan kualitas kayu; serta kehutanan umum.

Pertukaran pengetahuan ini sejalan dengan arah pendidikan dan penelitian Fahutan UNTAN berbasis sumber daya hutan tropis. Pembahasan inovasi hasil hutan relevan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, sedangkan perhatian pada kelestarian hutan terkait dengan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan. Peluang kerja sama antarpihak mendukung SDG 17, dengan penerapan riset sebagai tindak lanjut yang masih diharapkan.

Tag

Terhubung dengan Fahutan UNTAN

Komentar

1 komentar untuk “Dorong Bioekonomi dan Hutan Lestari: Fahutan UNTAN Tekankan Kolaborasi Riset melalui Seminar Nasional MAPEKI XXIX”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *