SYLVA MEDIA, YOGYAKARTA — Pengetahuan masyarakat adat dan teknologi pengolahan hasil hutan menjadi perhatian dalam pengembangan bioekonomi yang menjaga kelestarian sumber daya. Kedua pendekatan tersebut dibahas dalam Simposium Internasional Indonesian Wood Research Society (IWoRS) XVIII di University Club Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026).
Ketua Umum Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) sekaligus Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN), Prof. Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU, menyampaikan sambutan pembukaan. Forum mengangkat integrasi teknologi, kearifan lokal, dan transformasi pemanfaatan hutan serta hasil hutan untuk mendukung bioekonomi dan pencapaian FOLU Net Sink 2030 Indonesia.

Bioprospeksi Berbasis Pengetahuan Lokal
Dari Universitas Hasanuddin, Prof. Syahidah, S.Hut., M.Si., Ph.D., memaparkan penelitian bioprospeksi berbasis etnobotani dan profil fitokimia tumbuhan obat dari komunitas adat Kajang. Penelitian tersebut menghubungkan pengetahuan tradisional mengenai tumbuhan dengan kajian senyawa bioaktif melalui pengujian ilmiah.
Melalui dokumentasi etnobotani, penggunaan tumbuhan oleh masyarakat dapat menjadi dasar penentuan objek penelitian. Profil fitokimia kemudian memberi gambaran mengenai kandungan senyawa yang dapat dikaji lebih lanjut dalam pengembangan pemanfaatan hasil hutan.
Bambu dan Mangrove untuk Ekonomi Berkelanjutan
Dosen Universitas Islam Indonesia, Dr. Ar. Yulianto Purwono Prihatmaji, IPM., IAI., membahas pengembangan bambu melalui pemetaan, pembelajaran lapangan, dan laboratorium hidup. Bapak Yulianto menekankan perlunya menguatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap bambu sebagai bahan struktural, sekaligus menjaga pengetahuan lokal yang menyertai pemanfaatannya.
Bapak Muljadi Tantra dari PT Bintuni Utama Murni Wood Industri mengangkat pemanfaatan mangrove melalui pendekatan ekonomi restoratif. Pembahasan ini menempatkan pemulihan ekosistem, keterlibatan masyarakat, serta peluang manfaat ekonomi sebagai aspek yang perlu dipertimbangkan bersama dalam pengelolaan mangrove.
Kajian bambu dan mangrove memperlihatkan hubungan antara pengembangan produk dengan keberlanjutan sumber bahan bakunya. Pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab relevan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, sedangkan pengelolaan ekosistem hutan terkait dengan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.
Mendorong Penerapan Kayu Rekayasa
Bapak Ryan Nata Wirasasmita dari PT Buana Triarta membahas tantangan pengembangan industri kayu rekayasa di Indonesia. Beliau menyoroti kebutuhan produk yang terstandar dan rancangan bangunan yang dapat diterapkan berulang agar pemanfaatan kayu dalam konstruksi lebih mudah dikembangkan.
Pembahasan juga mencakup kebutuhan basis data jenis kayu, tenaga profesional, proyek, serta pelaku manufaktur. Informasi tersebut diperlukan untuk menghubungkan hasil penelitian dengan perancangan, produksi, dan penggunaan produk bernilai tambah; pengembangan inovasi industri ini relevan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Selain sesi narasumber, simposium diisi presentasi paralel mengenai hasil hutan dan kehutanan. Penghargaan penyaji terbaik untuk presentasi oral serta poster menjadi bagian dari apresiasi terhadap kontribusi peserta dalam pertukaran pengetahuan ilmiah.
Keterlibatan Fahutan UNTAN dalam forum ini sejalan dengan pengembangan pendidikan dan penelitian berbasis sumber daya hutan tropis serta penguatan jejaring internasional. Pertemuan perspektif akademisi, industri, dan masyarakat membuka peluang kolaborasi yang relevan dengan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan penerapan hasil riset sebagai manfaat yang masih perlu ditindaklanjuti.

Narasumber, panitia, dan peserta berfoto bersama dalam Simposium Internasional IWoRS XVIII di University Club UGM, Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026). (Doc. Sylva Media)
Komentar