SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Ramin Series #52 kembali mempertemukan mahasiswa Fahutan UNTAN dengan peneliti dan praktisi untuk membedah riset terapan kehutanan. Forum ilmiah ini berlangsung secara hibrida pada Jumat, 13 Februari 2026, di Aula Bungur, Gedung Prof. Sakunto, MS, dengan menghadirkan peneliti BRIN serta Yayasan 4F atau Farmer for Forest Protection Foundation . Dalam forum ini, BRIN membahas kultur jaringan tanaman hutan, mikroba hutan, serta pemanfaatan penginderaan jauh untuk kehutanan, sementara 4F menyoroti perlindungan hutan berbasis komunitas.
Ramin Series sebagai Penguatan Akademik di Luar Kelas
Wakil Dekan Bidang Akademik Fahutan UNTAN, Dr. Ir. M. Sofwan Anwari, S.Si., M.Si., IPU, menegaskan Ramin Series merupakan program rutin yang telah berjalan lebih dari empat tahun sebagai penguatan kegiatan akademik di luar pengajaran. “Ramin itu singkatan dari seminar keilmuan dari praktisi dan industri. Jadi ini dimaksudkan sebagai satu bentuk kegiatan akademik di luar pengajaran,” ujarnya.
Selanjutnya, Dr. Sofwan mengaitkan forum ini dengan kebutuhan mahasiswa yang memasuki fase persiapan riset dan praktik lapangan. Menurutnya, Fahutan UNTAN mendorong skema pembelajaran “berdampak” agar mahasiswa memiliki pengalaman yang relevan sekaligus mendukung target kelulusan tepat waktu. “Minimal 45% mahasiswa itu lulus tepat waktu sebelum semester 8 berakhir,” kata Dr. Sofwan.
Dukungan Kolaborasi untuk Riset dan Lapangan
Di sela rangkaian Ramin Series #52, Fahutan UNTAN menegaskan penguatan jejaring kemitraan melalui penandatanganan kerja sama dengan Farmer for Forest Protection Foundation (4F). Pada agenda tersebut, pihak 4F hadir langsung melalui Harits Yowansyah Pandayu Putra selaku Program Manager 4F. Sofwan berharap kolaborasi ini segera berlanjut pada kegiatan konkret yang melibatkan mahasiswa, terutama untuk riset dan praktik di lokasi mitra. “Saya yakin hal ini sangat bermanfaat ke depan baik untuk pihak mitra maupun bagi pihak Fakultas Kehutanan,” ujarnya.

Penguatan Kemitraan: Prosesi penandatanganan dokumen PKS sebagai komitmen awal kolaborasi riset di tingkat tapak. (Dok. SYLVA MEDIA)
4F: Hutan sebagai “Supermarket” dan Identitas
Sementara itu, Executive Director 4F, Tirza Pandelaki, menyampaikan opening speech secara daring melalui Zoom dan mengajak peserta memaknai hutan sebagai sistem kehidupan yang utuh. Ia menuturkan masyarakat desa kerap menyebut hutan sebagai “supermarket” karena menopang kebutuhan harian, mulai dari pangan, obat-obatan, sumber air, hingga hasil hutan bukan kayu. “Hutan adalah supermarket. Hutan adalah identitas kami,” tuturnya.
Namun, Tirza mengingatkan hutan menjadi rentan ketika keterhubungan generasi melemah dan proses pewarisan pengetahuan putus. “Hutan hilang perlahan ketika maknanya memudar, ketika keterhubungan generasi terputus,” katanya. Karena itu, 4F mendorong perlindungan hutan berbasis komunitas melalui empat pilar farmer, forest, food, dan future, sekaligus membuka ruang keterlibatan mahasiswa dalam pemetaan partisipatif, kajian sosial-ekologi, dan sistem monitoring hutan berbasis data.
Bedah Materi BRIN: Kultur Jaringan, Mikroba, hingga Penginderaan Jauh
Sesi utama Ramin Series #52 menampilkan tiga materi terapan dari peneliti BRIN. Dr. Ir. Asri Insiana Putri, M.P. memaparkan kultur jaringan tanaman hutan sebagai metode perbanyakan in vitro yang dilakukan secara aseptik dan terkontrol. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menghasilkan bibit yang identik dengan tetua terpilih (true-to-type) sekaligus mendukung kebutuhan industri, pengembangan tanaman obat, serta konservasi jenis langka.
Berikutnya, Margaretta Christita, S.Hut., M.Biotech., Ph.D. mengangkat materi “Hutan Bukan Sekadar Pohon: Kisah Mikroba di Balik Layar”. Ia menekankan bahwa mikroba berperan penting dalam siklus hara, dekomposisi, dan pemulihan ekosistem, termasuk pada konteks restorasi lahan terdegradasi. Menurutnya, revegetasi yang efektif memerlukan pemulihan fungsi tanah, sehingga pendekatan berbasis mikroba dapat membantu mendukung pertumbuhan tanaman pada kondisi ekstrem seperti lahan pascatambang.
Sementara itu, Galdita Aruba Chulafak, S.T., MSE. menjelaskan pemanfaatan penginderaan jauh untuk kehutanan, mulai dari konsep resolusi data hingga contoh aplikasi pemantauan kebakaran, perubahan tutupan lahan, dan indikasi illegal logging melalui pembacaan perubahan citra pada rentang waktu tertentu. Ia juga menegaskan bahwa penginderaan jauh dapat membantu riset kehutanan di wilayah luas dan sulit dijangkau, terutama ketika dipadukan dengan verifikasi lapangan.

Pemaparan Materi: Peneliti dari BRIN saat membagikan wawasan mengenai hasil riset terapan terkini guna mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan. (Dok. SYLVA MEDIA)
Pada sesi diskusi, mahasiswa mengajukan pertanyaan kritis mengenai dampak teknologi kultur jaringan terhadap ekosistem, peluang studi lanjut GIS, hingga peran mikroba tanah dalam keberhasilan revegetasi pada reklamasi progresif. Dengan demikian, Ramin Series #52 tidak hanya menyajikan materi, tetapi juga membangun dialog ilmiah yang menghubungkan teori, metode, dan praktik kehutanan.

