SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Puncak peringatan Hari Kartini di Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Tanjungpura (UNTAN) diwarnai dengan kisah-kisah heroik dari tingkat tapak dalam sesi talkshow bertajuk “Perempuan Penjaga Hutan: Kepemimpinan Perempuan dalam Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu untuk Aksi Iklim di Indonesia”. Sesi ini menghadirkan para Women Champions yang membuktikan bahwa perempuan berada di garis depan dalam menjaga kelestarian hutan Kalimantan Barat.
Menjaga Gunung dan Mengolah Potensi Desa Sungai Deras
Siti Latifah, Woman Champion dari Desa Sungai Deras, berbagi pengalaman tentang pentingnya menjaga hutan lindung di kawasan Gunung Ambawang sebagai sumber air bersih utama bagi warga desa. Selain menjaga kawasan, kelompok perempuan di desanya juga aktif mengelola Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
“Di desa kami ada dua KUPS utama, yaitu pengolahan ikan nila dan kelapa lokal, di mana mayoritas anggotanya adalah perempuan,” ujar Siti. Ia menjelaskan bahwa melalui inovasi produk seperti abon ikan nila dan kerupuk tulang ikan, perempuan desa kini memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi keluarga sekaligus menjaga ekosistem hutan tetap lestari.
Teknologi di Tangan Perempuan Kalibandung
Kisah tak kalah inspiratif datang dari Nini Andriani, Woman Champion Monitoring Hutan Desa Kalibandung. Di wilayah yang didominasi rawa gambut seluas 7.255 hektare, Nini dan kelompoknya aktif melakukan patroli hutan untuk mencegah ancaman kebakaran lahan dan illegal logging.
Uniknya, para perempuan ini telah dibekali keterampilan teknologi dengan menggunakan aplikasi Forest Watcher untuk memantau titik-titik ancaman di kawasan hutan mereka. “Meskipun harus berjalan kaki belasan kilometer, kami tetap semangat melakukan patroli demi menjaga hutan kami agar tetap memberikan manfaat bagi anak cucu,” ungkap Nini. Produk unggulan seperti beras merah lahan gambut dan serbuk jahe menjadi bukti nyata manfaat ekonomi dari hutan yang terjaga.

Aksi Nyata: Suasana pemaparan pengalaman lapangan mengenai pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan patroli hutan oleh narasumber. (Dok. SYLVA MEDIA)
Pendampingan yang Memandirikan
Hera Yulita, pendamping dari JARI Indonesia Borneo Barat, menekankan bahwa pelibatan perempuan bukan sekadar agenda tambahan. Di tiga desa dampingan JARI (Kalibandung, Permata Jaya, dan Sungai Deras), terdapat 13 KUPS di mana 90% anggotanya adalah perempuan.
“Pendampingan kami bertujuan menempatkan perempuan sebagai pemimpin dalam pengambilan keputusan. Mereka bukan hanya objek, tapi aktor utama yang menentukan komoditas apa yang akan dikelola berdasarkan pengetahuan lokal mereka,” jelas Hera.
Apresiasi dari Para Ahli
Sesi talkshow ini ditanggapi oleh para pakar yang memberikan penguatan dari sisi kebijakan dan akademis:
Ibu Setiyo Haryani, S.Hut, M.Env (DLHK Kalbar): Mengapresiasi keberanian perempuan desa yang mematahkan stigma bahwa patroli hutan hanya bisa dilakukan laki-laki.
Bapak Dr. Arifin Noor Aziz, S.H., M.H. (DPRD Kubu Raya): Menyebut perempuan sebagai “penjaga pertama bumi” dan berkomitmen mendorong akses permodalan bagi kelompok KUPS.
Ibu Dr. Hikma Yanti, S.Hut., M.Si. (Ketua Jurusan Kehutanan UNTAN): Menekankan perlunya pendekatan “memimpin bersama perempuan” dalam setiap kebijakan aksi iklim.

Dukungan Multipihak: Sesi penanggap oleh legislatif, praktisi, dan akademisi guna memperkuat posisi perempuan dalam kebijakan iklim. (Dok. SYLVA MEDIA)
Melalui talkshow ini, mahasiswa Fahutan UNTAN diharapkan mendapatkan pencerahan dan inspirasi nyata tentang bagaimana kolaborasi antara emansipasi perempuan dan aksi iklim dapat menciptakan perubahan yang berkelanjutan bagi dunia.

