Peserta rapat berfoto bersama di depan layar bertuliskan Rapat Koordinasi Strategis Pencegahan dan Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Barat 2026.
Foto bersama perwakilan Fahutan UNTAN dengan Gubernur Kalimantan Barat dan peserta Rapat Koordinasi Strategis Pencegahan dan Mitigasi Karhutla di Ruang Rapat Ruai Telabang, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (21/10/2026). (Dok. Istimewa)

Fahutan UNTAN Usulkan Strategi Pencegahan Karhutla Kalbar melalui Gambut Basah, Kesiapan Air, dan Keterhubungan Lanskap

SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Fahutan UNTAN) mengusulkan strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat melalui gambut basah, kesiapan air pemadaman, dan keterhubungan lanskap konservasi. Ketiga pokok tersebut menjadi bahan masukan dalam Rapat Koordinasi Strategis Pencegahan dan Mitigasi Karhutla Provinsi Kalimantan Barat di Ruang Rapat Ruai Telabang, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (21/10/2026).

Fahutan UNTAN diwakili Dekan Prof. Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU dan Guru Besar Prof. Dr. Ir. Dwi Astiani, M.Sc. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam pembahasan pencegahan karhutla berbasis konservasi hutan dan pengelolaan ekosistem gambut bersama pemerintah daerah.

Masukan tersebut dirangkum dalam policy brief bertajuk Gambut Basah, Air Siap, Lanskap Terhubung yang disusun Prof. Dr. Ir. Gusti Hardiansyah, M.Sc., QAM., IPU bersama Prof. Farah dan Prof. Dwi. Dokumen ini mengusulkan pencegahan permanen dengan kesiapan yang dapat diperiksa sebelum musim kemarau.

Prof. Farah Diba menyerahkan dokumen policy brief kepada Bapak Ria Norsan di depan meja rapat.
Dekan Fahutan UNTAN Prof. Farah Diba menyerahkan policy brief kepada Gubernur Kalimantan Barat Bapak Ria Norsan dalam Rapat Koordinasi Strategis Pencegahan dan Mitigasi Karhutla di Ruang Rapat Ruai Telabang, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (21/10/2026). (Dok. Istimewa)

Gambut Basah dan Air Siap Pakai

Pembasahan gambut ditempatkan sebagai langkah pencegahan melalui pengelolaan tata air sesuai kondisi tapak. Dokumen mengusulkan pemantauan tinggi muka air dan pengaturan kanal untuk menjaga fungsi hidrologi gambut.

Kesiapan pemadaman juga diarahkan pada sumber air yang terbukti berfungsi di lapangan. Sumur bor, embung, dan kanal bersekat diusulkan mendapat pemeliharaan terjadwal, disertai pemeriksaan pompa dan selang serta pemetaan sumber air dan jalur akses.

“Sarana air harus siap sebelum api datang, dan gambut harus basah sebelum kemarau tiba,” tertulis dalam policy brief masukan pakar Fahutan UNTAN. Penekanan ini menempatkan uji fungsi sarana dan ketersediaan air sebagai bagian dari penilaian kesiapan pencegahan.

Peserta duduk mengelilingi meja rapat di Ruai Telabang dengan layar agenda koordinasi pencegahan dan mitigasi karhutla di bagian depan.
Suasana Rapat Koordinasi Strategis Pencegahan dan Mitigasi Karhutla Provinsi Kalimantan Barat di Ruang Rapat Ruai Telabang, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (21/10/2026). (Dok. Istimewa)

Penguatan koordinasi lintas Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), penyatuan peta risiko, dan penyiapan anggaran sebelum kemarau turut diusulkan. Perencanaan dan kesiapsiagaan tersebut selaras dengan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui penguatan ketahanan terhadap risiko bencana.

Lanskap Terhubung dari Hulu ke Pesisir

Pencegahan karhutla dalam dokumen ini dirancang dengan menghubungkan pengelolaan gambut, daerah aliran sungai, dan mangrove. Bentang Karimata–Palung–Mendawak atau Mata Pandawa diusulkan sebagai lanskap percontohan untuk mempertemukan pengelolaan air dengan konservasi hutan dari hulu hingga pesisir.

Perlindungan koridor satwa Gunung Palung–Mendawak menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Pemeliharaan keterhubungan habitat dan pengelolaan air ditempatkan dalam satu arah pencegahan, sehingga pengurangan risiko karhutla berjalan bersama pelestarian ekosistem sebagaimana tujuan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.

Pelaksanaannya diusulkan melibatkan pemerintah daerah, pengelola kawasan, desa, Masyarakat Peduli Api, dan pemegang izin dengan pembagian tanggung jawab yang jelas. Keterlibatan masyarakat mencakup patroli, perawatan sarana air, serta pengembangan kegiatan ekonomi dan penyiapan lahan tanpa bakar.

Ukuran hasil yang ditawarkan mencakup berkurangnya kebakaran berulang, lebih cepatnya penanganan awal, terjaganya muka air gambut, dan berkurangnya paparan asap. Indikator tersebut diarahkan untuk menilai manfaat pencegahan yang diusulkan bagi wilayah rawan dan masyarakat.

Kontribusi Akademik dan Pertukaran Pengetahuan

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dwi menyerahkan buku karya beliau berjudul Ekologi Hutan dan Lahan Gambut Tropis kepada Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan. Penyerahan buku tersebut melengkapi kontribusi akademisi dengan berbagi sumber pengetahuan mengenai ekologi gambut.

Prof. Dwi Astiani bersama Bapak Ria Norsan memegang buku Ekologi Hutan dan Lahan Gambut Tropis dalam rangkaian rapat karhutla.
Prof. Dwi Astiani menyerahkan buku karya beliau berjudul Ekologi Hutan dan Lahan Gambut Tropis kepada Gubernur Kalimantan Barat Bapak Ria Norsan dalam rangkaian rapat koordinasi karhutla, Rabu (21/10/2026). (Dok. Istimewa)

Partisipasi Fahutan UNTAN menghubungkan kajian akademik dengan kebutuhan pemerintah daerah dalam merumuskan langkah pencegahan karhutla. Kegiatan ini sejalan dengan misi fakultas dalam pengabdian berbasis sumber daya hutan tropis dan kerja sama berkelanjutan dengan pemangku kepentingan, sekaligus mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Rekomendasi tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi penguatan pencegahan karhutla Kalimantan Barat. Penerapannya diharapkan membantu menyiapkan tata air, sarana pemadaman, dan pengelolaan lanskap secara terpadu sebelum risiko kebakaran meningkat.

Tag

Terhubung dengan Fahutan UNTAN

Komentar

2 komentar untuk “Fahutan UNTAN Usulkan Strategi Pencegahan Karhutla Kalbar melalui Gambut Basah, Kesiapan Air, dan Keterhubungan Lanskap”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *