SYLVA MEDIA, PONTIANAK — Upaya menempatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai garda terdepan konstruksi ramah lingkungan mencapai babak baru di Fakultas Kehutanan UNTAN pada Senin (04/05/2026). Melalui gelaran Ramin Series 54, Fahutan mempertemukan sivitas akademika dengan Prof. Neil Thomas, seorang praktisi internasional yang telah lama mendedikasikan keahliannya dalam inovasi material bambu. Diskusi yang berlangsung khidmat di Aula Bungur ini menegaskan komitmen institusi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan lewat aplikasi arsitektural yang visioner.
Sinergi Multidisiplin dan Inovasi Berkelanjutan
Dekan Fahutan UNTAN, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., IPU., dalam sambutannya menekankan bahwa pemilihan tema bambu selaras dengan visi universitas dalam mempromosikan material ramah lingkungan. Ramin Series 54 tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Kehutanan, tetapi juga mahasiswa dari program studi Teknik Sipil dan Arsitektur untuk mendalami pemanfaatan bambu dari sisi struktural.
“Bambu adalah material masa depan yang sangat relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Melalui kuliah umum ini, kami berharap mahasiswa mendapatkan pencerahan tidak hanya dari sisi kehutanan, tetapi juga sisi arsitektural dan aplikatif lainnya,” ungkap Dr. Farah Diba.

Sinergi Internasional: Dr. Ir. Farah Diba menekankan pentingnya kolaborasi multidisiplin antara kehutanan, sipil, dan arsitektur dalam pemanfaatan bambu. (Dok. SYLVA MEDIA)
Bambu: Jawaban Atas Krisis Karbon Global
Prof. Neil Thomas, yang merupakan pendiri Atelier One UK dan pemegang gelar Member of the Order of the British Empire (MBE), membedah mengapa dunia harus mulai beralih ke bambu. Dalam presentasinya, ia menyoroti bahwa industri konstruksi menyumbang 40% emisi gas rumah kaca secara global.
Beberapa poin kunci yang disampaikan oleh Prof. Neil antara lain:
- Sekuestrasi Karbon yang Cepat: Berbeda dengan kayu yang membutuhkan waktu puluhan tahun, bambu hanya memerlukan waktu sekitar 5 tahun untuk matang dan siap digunakan sebagai material struktur, sehingga mampu menyerap karbon jauh lebih cepat.
- Keunggulan Mekanis: Bambu memiliki rasio kekuatan terhadap berat yang luar biasa, di mana struktur tabungnya secara alami didesain untuk menahan beban lateral (angin) dan vertikal dengan sangat efisien.
- Teknologi Konektor: Neil memamerkan inovasi penyambungan modular menggunakan teknologi konektor berbasis sistem mekanis sepeda yang ia kembangkan melalui The Node Company, guna mengatasi kelemahan bambu yang mudah pecah saat dibor secara konvensional.
Belajar dari “Insinyur” Terhebat: Alam
Neil, yang juga terlibat dalam rekayasa panggung tur dunia band U2 dan Rolling Stones, mengajak peserta untuk belajar dari alam lewat konsep biomimikri. Salah satu contoh nyata yang ia paparkan adalah proyek The Arc di Green School Bali, sebuah struktur bambu inovatif yang berhasil meraih penghargaan tertinggi dari Institution of Structural Engineers. Diskusi yang dipandu oleh Dr. Sari Delviana Marbun ini juga membedah aspek keawetan bambu yang dapat mencapai masa pakai desain hingga 50 tahun jika melalui proses pengawetan yang tepat.

Edukasi Lintas Disiplin: Antusiasme mahasiswa dalam mendalami inovasi konektor mekanis guna mengatasi kelemahan struktural pada material bambu. (Dok. SYLVA MEDIA)
Seminar ditutup dengan harapan agar kolaborasi internasional ini dapat terus berlanjut, khususnya dalam pengembangan “pustaka digital” mengenai pemanfaatan bambu yang dapat diakses oleh peneliti di seluruh dunia secara gratis.